Senin, 28 Mei 2018

Ritual


Melestarikan Budaya dengan Mempelajarinya

         

Banyuwangi merupakan salah satu kabupaten yang melestarikan dan mempertahankankan ritual adatnya. Dari 72 event Banyuwangi festival 10 di antaranya merupakan ritual adat yang di laksanakan di beberapa desa seperti Kemiren, Bakungan, Andong, Alas Malang dan Sukodono.

Desa Olehsari berbatasan langsung dengan Kemiren, sebuah desa yang juga merupakan salah satu desa adat, yang sebagian wilayah adatnya masuk ke dalam tata administrasi desa Olehsari. Ada beberapa keunikan mengenai hubungan kedua desa ini terkait dengan pelaksanaan ritual masing-masing. Dengan bersebelahannya desa ini, ada hal yang menurut mereka dilarang oleh hukum adat masing-masing: seblang Olehsari tidak boleh ditampilkan di Kemiren dan sebaliknya Barong Kemiren tidak boleh ditempilkan di Olehsari. Menurut kepercayaan masyarakat Olehsari, ada suatu perjanjian yang melarang kedua kesenian ini masuk ke wilayah adat desa sebelahnya. Hal ini bersangkutan dengan asal usul kesenian mereka masing-masing.

Seblang merupakan ritual adat yang penting dirayakan oleh masyarakat adat osing desa Olehsari setiap tahun sepekan setelah hari raya idul fitri. Keberadaan masyarakat adat osing berada dibagian Timur Pulau Jawa tepatnya di wilayah Banyuwangi. Mereka menyebar di 9 kecamatan dan di beberapa tempat masyarakat adat osing telah berbaur dengan pendatang. Seperti dengan masyarakat madura, jawa, dan bali. Masyarakat adat using sangat erat dengan sastra lisan. Sastra lisan yang diwujudkan kedalam bentuk mantra-mantra. Mantra merupakan sastra kuno yang didalamnya mengandung doa-doa sakral, magis dan berkekuatan gaib. Mantra-mantra mereka sebenarnya ditujukan kepada hal-hal positif. Digunakan untuk kepentingan ritual adat. Syair-syair dalam mantra bila diperhatikan kadang sangat sulit mengartikannya. Sehingga baik para sinden, pawang, ketua adat, bahkan ahli bahasa pun sulit memahaminya secara jelas dan tepat.

Masyarakat Osing yang bermukim di Olehsari memiliki kepercayaan terhadap kehidupan dan kehadiran makhluk-makhluk halus. Dalam kepercayaan masyarakat adat Osing dipercayai bahwa setiap kampung atau desa dijaga atau ditunggu oleh roh leluhur mereka. Pengertian roh leluhur atau makhluk halus ini sangat erat dalam tata kehidupan mereka dan mempunyai pengaruh yang besar. Makhluk halus dalam pengertian masyarakat olehsari adalah danyang. Danyang ini sangat berbeda dengan pengertian jin, setan, iblis dan jenis lainnya. Danyang adalah roh-roh leluhur yang mempunyai peran besar terhadap proses awal berdirinya sebuah desa.

 Secara umum orang Osing adalah petani yang unggul. Budaya bercocok tanam syarat dengan resiko kegagalan. Untuk menghindarkan diri dari segala gangguan maka mereka berpegang teguh pada kepercayaan-kepercayaan yang terkait dengan aktifitas kesehariannya. Masyarakat adat Osing mengenal ritual kepercayaan dengan tujuan menghindari kegagalan dan gangguan dari manapun datangnya. Juga merupakan cara menghormati para leluhurnya. Tujuan besarnya dari ritual adat ini adalah mengucap syukur kepada Tuhan sang Maha Pencipta dan menciptakan keselarasan di bumi. Dalam menjaga kelangsungan hidup ini masyarakat adat Osing melaksanakan ritual adat Seblang dan salah satu bagian dari acara  ritual ini adalah Ider Bumi yang berarti mengitari bumi.

Bentuk panggung Seblang melingkar seperti belahan bumi dengan bagian pusatnya ditancapkan tiang yang dihiasi dengan segala lambang persembahan sebagai sesaji. Di atasnya tergelar pelindung berupa payung agung yang terbuat dari kain putih menaungi panjak para penabuh gamelan. Di lingkar terdalam ditempatkan seperangkat gamelan sebagai pusat bunyi yang terdiri dari kendang, saron, kempul dan gong. Lingkaran berikutnya adalah arena seblang menari. Desain lantai panggung berbentuk lingkaran dimana seblang berjalan menari mengikuti lingkaran. Panggung lingkar ini dipercaya mempunyai kekuatan magis. Lingkaran berikutnya adalah anak tangga yang berjumlah 4 sehingga untuk mencapai lingkar tempat penari Seblang melakukan aksinya diperlukan lima langkah. Jumlah angka yang memberikan makna bagi yang memaknai. Lingkar terluar adalah tempat pengunjung yang datang dari berbagai kalangan. Mereka bukan sekedar menonton. Mereka datang menghadiri ritual adat dengan berbagai tujuan, keinginan, maksud dan kehendaknya masing-masing. Mereka hadir dalam ritual adat ini untuk berharap, mengharap-harapkan agar segala yang diharapkan bisa terkabul.

Dibagian barat ada pondok yang menghadap ke timur atau wetan sebagai lambang permulaan. Di dalam pondok ini terdapat aneka macam hasil bumi yang akan diperebutkan oleh pengunjung di hari terakhir setelah seluruh rangkaian acara ritual dilaksanakan. Saat ritual berlangsung tempat ini digunakan para sinden mendendangkan mantra-mantra.

Ritual seblang diadakan selama 7 hari, dimulai sekitar jam 2 siang dan berakhir sekitar jam setengah 6 sore sebelum waktu magrib tiba. Pengunjungnya pun semakin mendekati hari-hari terakhir jumlah yang hadir akan semakin banyak dan bukan hanya dari masyarakat adat Osing saja.

Penari seblang olehsari diperankan oleh gadis remaja dan merupakan garis keturunan dari penari seblang. Pemilihannya dilakukan dengan suatu ritual yang sangat magis. Prosesi pemilihan dilakukan pada hari kamis malam jum’at atau minggu malam senin. Raga Mbah Sutrinah yang dikenal dengan Mah Sun menjadi perantara. Ritual ini disebut dengan kejiman. Dialog antara roh leluhur dan para tetua adat ini juga dihadiri oleh mak asiah sang penanggung jawab ritual. Para pesinden dan masyarakat desa termasuk pejabat desa turut menyaksikan.



Setiap hari selama 7 hari mak asiah harus membuat mahkota yang dalam bahasa Osing disebut omprok. Omprok ini terbuat dari daun-daunan dan bunga segar. Di bagian depan omprok di tengah terdapat sebuah cermin. Cermin yang terdapat di mahkota atau omprok, dimaknai sebagai sarana mendapatkan kawan, yaitu agar roh halus yang hadir dalam raga Seblang adalah roh halus yang seusianya sehingga makna cermin bukan sebagai tolak bala. Cermin ini dimaknai dan dipercayai sebagi sarana untuk memperoleh kerabat. Selain itu masyarakat yang terlibat dalam kegiatan upacara adat Seblang membuat rangkaian bunga-bunga yang akan dijual. Kegiatan merias seblang biasanya dilakukan di rumah Mak Asiah sang pembuat omprok Seblang.

Prosesi akan dimulainya pementasan upacara adat Seblang biasanya dipimpin oleh tetua adat. Hal yang pertama dilakukan ialah mengarak Seblang dari tempatnya dirias hingga ke tempat pementasan Seblang. Penari Seblang diapit oleh 2 pawang yang merangkap sebagai sinden dan seluruh pendukung termasuk sinden-sinden lain berjalan di belakang dengan membawa seluruh sesajen. Tidak ketinggalan juga perapen dan payung agung yang melindungi penari Seblang. Belum ada bunyi gamelan dalam arak-arakan ini, namun gamelan sudah dibunnyikan ditempat upacara atau pementasan.



Mantra yang didendangkan oleh sinden untuk memulai upacara adat seblang yaitu tembang Seblang Lukento. Oleh masyarakat adat Osing Olehsari dipercaya sebagai mantra untuk memanggil roh halus atau sanghyang. Gending-gending lain menyusul seperti liliro kantun, cengkir gading, podo nonton, kembang menur, kembang gadung, kembang pipil. Ada sekitar 27 tembang yang ditembangkan dalam ritual ini.

Kembang yang sudah dibuat di rumah penari Seblang dijual kepada para pengunjung dan pada sesi ini pengunjung berebut  membeli dengan tujuan masing-masing. Selama proses jual bunga ini, gending kembang dirmo terus dikumandangkan dan Seblang tetap duduk. Dengan sarana kembang ini mereka berharap agar harapan mereka  dapat segera terwujud. Tak jarang beberapa pengunjung melalui sinden atau pawang meminta tolong agar air yang dibawa diberikan kepada Seblang untuk dimantrai sesuai permintaan pengunjung. Seblang pun dengan sabar melayani keinginan dengan memberi tambahan daun pisang muda yang terjuntai di omproknya dan memasukkannya ke dalam air.
Sebagai arena penutup acara ini, Seblang mengitari arena kembali. Babak ini berakhir dan diakhiri dengan gending layar kumendung. Dalam prosesi gending layar kumendung dilakukan tundikan yakni penari seblang akan melempar sampur ketengah pengunjung. Pengunjung yang terkena sampur atau terkena lemparan sampur dengan rela hati menari bersama seblang.

Makam-makam akan disinggahi, seperti makam mbah ketut. Memasuki jalan desa dibeberapa tempat yang memiliki kesejarahan olehsari, seblang selalu berhenti dan seblang akan menari sejenak. Ditempat pemberhentian yang penting dan mengharukan adalah ketika berhenti ditempat rumah mbah sun. Seblang akan disambut dengan ramah oleh Mbah Sutrinah. Di perempatan dekat masjid Seblang berhenti dan menari cukup lama. Selanjutnya seluruh rombongan Seblang menuju kantor desa dan di sini akan disambut kepala desa dan mempunyai kesempatan menari bersama seblang.

Rangkaian ritual ini kembali ketempat semula. Sampur di tangan Seblang adalah sarana pemberi kehormatan kepada seluruh yang hadir tanpa perbedaan. Sampur di tangan Seblang memberi rasa senang dan bahagia tanpa pandang bulu. Sampur ditangan Seblang memperluas kekerabatan tanpa tebang pilih. Sampur di tangan seblang adalah sarana menjalin persaudaraan tanpa pilih kasih.



Diawali dengan gending Condro Dewi terdengar dengan ritme yang lama. Ritme ini akan semakin cepat sampai mencapai ekstase puncak. Seblang terjatuh. Dalam keadaan terjatuh, secepatnya seblang harus bangkit kembali karena kalau seblang tidak bangkit kembali maka bencana lah yang akan menghampiri. Seblang akan bangkit jika ada pengorbanan secara sukarela, membantu dengan hati tulus, dengan kejujuran yang ikhlas bersedekahnya. Lembaran uang bukan lagi bermakna sebagai alat transaksi. Lembaran-lembaran uang menyatakan sarana ketulusan. Lembaran-lembaran uang dimaknai sebagai bentuk pengabdian. Lembaran-lembaran uang adalah ungkapan hati yang ikhlas. Lembaran-lembaran uang membantu bagi yang ingin keluar dari kesulitan.


Sabtu, 26 Mei 2018

Sosial


Pemuda Pemudi Adat



            Indonesia memiliki keberagaman suku serta adat-istiadat. Maka dari itu Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) membuat sebuah organisasi sayap yang di khususkan untuk pemuda-pemudi Nusantara yang dinamakan dengan Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN). Kemah pemuda adat merupakan langkah awal terbentuknya PD BPAN Osing di Banyuwangi yang di selenggarakan pada 27-29 Januari 2017 di Dusun Wonosari Desa Tamansuruh Kecamatan Glagah Banyuwangi yang di hadiri beberapa komunitas adat osing di Banyuwangi yaitu : Kemiren, Olehsari, Glagah, Kenjo, Andong, Aliyan, Bakungan, Alas Malang dan Banjar.
















Tujuan dari kegiatan ini adalah saling mengenal dan berbagi informasi terutama tentang Masyarakat adat osing yang tersebar di Banyuwangi. Dalam kegiatan ini pula di bekali dengan pengetahuan sejarah terbentuknya suku osing yang tersebar di wilayah tengah dan selatan Banyuwangi.

PD BPAN Osing memiliki sekitar 45 Anggota yang terdiri dari beberapa komunitas adat Osing di Banyuwangi yaitu : Kemiren, Glagah, Andong, Taman Suruh, Kenjo, Olehsari, Banjar, Bakungan, Bonyolangu, Alian, Alas Malang, Mangir, Rogojampi, Rejopuro, dan Mandaluko. Ada beberapa kegiatan yang kami lakukan salah satunya yaitu Jelajah Osing yang merupakan media kita untuk berdiskusi.

1.      Jelajah Osing


Jelajah Osing Merupakan kegiatan yang di adakan di dalam komunitas atau desa adat secara bergilir satu dengan lainya dengan tujuan menggali potensi dan lebih mengenal masyarakat adat itu sendiri dengan lebih dekat. Mendiskusikan kondisi-kondisi terkini di desa, krisis identitas, penguatan pengetahuan lingkungan,adat istiadat, seni serta budaya.
Sebagai media silaturahmi pemuda antar desa yang mayoritas bersuku osing. Serta pengenalan kearifan lokal yang akan jarang di temukan jika tidak ada penggalian data lebih intensif. Membuka wawasan pemuda tentang kearifan lokal Banyuwangi yang kaya akan ritual dan tradisi.


A.    Daftar Kegiatan Jelajah Osing
Jelajah Osing di awali dengan Workshop penulisan dan penusunan data budaya Using sebagai katalog atau ensikopedia kebudayaan using di Banyuwangi pada hari Minggu, 12 Maret 2017 di Dusun Andong, Desa Tamansuruh Kecamatan Glagah-Banyuwangi.
Jelajah Osing ke-2 di adakan di Desa Glagah Kecamatan Glagah-Banyuwangi pada Minggu,10 April 2017. Kali ini kami kemas lebih menarik dengan metode permainan “Warung Kopi” dengan tujuan semua orang akan mengapresiasikan pendapatnya.
Jelajah Osing ke-3, kali ini kita ingin berkeliling lebih jauh lagi di Desa Mangir,Kecamatan Rogojampi-Banyuwangi pada 14 Mei 2017. Pengembangan seni dan budaya merupakan yang kami ambil agar anggota kami dapat menggali potensi dirinya.
Jelajah Osing ke-4 yang di selenggarakan pada 09 Juli 2017 di Desa Kenjo, Kecamatan Glagah-Banyuwangi. Diikuti kurang lebih 35 orang Pemuda dari berbagai komunitas adat.

2.      Next Generation Indigenous People


Pelatihan fasilitator generasi penerus masyarakat adat pada 16 Agustus – 6 September 2016 di Sungai Utik Kalimantan Barat. Kegiatan ini di ikuti  24 peserta dari beberapa wilayah di indonesia di antaranya : Kalimantan utara, Kalimantan selatan,Kalimantan Timur,Kalimantan Utara,Kalimatan Tengah, Sulawesi Barat, Papua, Sumatra, Jawa., Minahasa, dan Medan
Pembekalan materi, mental dan tanggung jawab di berikan pada kegiatan ini, hidup berdampingan bersama masyarakat membuat peserta lebih berbaur dan belajar kehidupan “Suku Dayak Iban”. Peserta di haruskan untuk memenuhi kebutuhanya sendiri dengan cara membagi piket setiap harinya untuk memasak,berolah raga dan membesihkan tempat pertemuan.

Tidak hanya itu peserta juga berdikusi tentang kehidupan adat di wilayahnya,perekonomian, agama, sosial dan budaya di masa dulu,kini dan yang akan datang. peserta juga di ajarkan bagaimana metode-metode yang tepat untuk mempersatukan pemuda untuk membangun , mempertahankan dan menggali sejarah desanya.

Kegiatan ini di laksanakan untuk mencetak generasi penerus adat  menemukan cara-cara ampuh yang telah atau tengah dilakukan oleh para Pemimpin Adat dalam upaya menyelamatkan tanah leluhur, Mengetahui hambatan-hambatan yang mereka hadapi dalam upaya penyelamatan itu, Mencari tahu cara pengambilan keputusan di komunitas, dan Mengidentifikasi peran Generasi Penerus dalam Kepemimpinan Adat.

Kamis, 24 Mei 2018

Konservasi


Angklung Paglak bagi Kehidupan Masyarakat Desa


 

           Angklung adalah alat musik bambu dengan bilahan atau tabung bambu yang tersusun dalam tangga nada tertinggi. Nada-nadanya tersusun dalam tangga nada selendro Banyuwangian. Sengaja menyebut dengan tangga nada selendro Banyuwangian, hal ini untuk membedakan dengan tangga nada selendro Jawa Tengahan. Angklung Banyuwangi biasanya tersusun dalam tiga oktaf tangga nada pentatonik selendro Banyuwangian dengan 15 nada. Nada rendahnya berada pada bagian sebelah kiri penabuhnya selanjutnya tersusun berurutan sampai nada tertingginya berada di sebelah kanan.
Angklung adalah alat musik yang sudah lama dikenal oleh masyarakat Banyuwangi. Menurut keterangan buku Djawa : Over Muziek in Het Banyuwangi Sche dalam tulisan Sumitro Hadi, Konsep Diskripsi Kesenian Angklung Caruk, dijelaskan Angklung Paglak mulai menggeliat lagi di tahun 1926.


     Angklung Paglak Kemiren dibunyikan pada saat panen tiba. Paglak yang dibuat di tengah sawah dengan ketinggian hingga 10 meter dari tanah ini dimaksudkan untuk menghibur orang-orang yang bekerja di sawah saat panen tiba.

Dalam perkembangan lebih lanjut masyarakat Desa Kemiren telah memiliki kesadaran untuk melestarikan angklung paglak tersebut. Sehingga angklung paglak bukan hanya dimainkan pada saat panen saja tetapi juga dibunyikan pada saat kegiatan-kegiatan penting lain di desanya. Dalam kegiatan adat seperti Tumpeng Sewu, Ider Bumi dan acara-acara adat penting lainnya, angklung paglak dimainkan untuk membangun suasana khas masyarakat desa Kemiren. Angklung paglak di desa Kemiren telah memberikan identitas pada masyarakat desanya.

Masyarakat desa adat Kemarin telah menempatkan angklung pada posisi yang tinggi dalam tatanan kehidupan masyarakatnya. Memainkan musik angklung paglak adalah satu bagian ritual penting dalam kegiatan adat di Desa Kemiren saat ini. Memainkannya saat pemnyambutan tamu, saat upacara adat, bahkan saat hajatan keluarga merupakan penghargaan tertinggi kepada angklung itu sendiri. Hal ini sama seperti yang telah mereka lakukan sejak jaman dulu, yaitu menaruh angklung pada pondok kecil di tengah sawah pada ketinggian tertentu. Ini merupakan simbol status yang diberikan oleh masyarakat desa adat Kemiren pada alat musik bambu ini.

Rabu, 23 Mei 2018

Adventure


Pesona Pantai Pulau Merah


            Banyuwangi merupakan salah satu kabupaten yang sedang bekembang terutama pada sektor pariwisata. Banyuwangi memiliki beberapa destinasi wisata dan salah satunya adalah Pantai Pulau Merah.

Jaraknya tidak cukup jauh dari kota, hanya membutuhkan kurang lebih sekitar 3 jam perjalanan menggunakan transportasi pribadi ataupun umum. Kita tidak memerlukan transportasi lain untuk mencapai Pantai Pulau Merah karena letak pantai terletak tidak jauh dari area parkir.

Pantai yang terletak di Desa Sumber Agung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi ini berhasil memikat wisatawan dengan keindahan adanya pulau kecil yang dikelilingi lautan di sebagian sisinya serta bebatuan merah yang terlihat pancaranya ketika siang hari.


Hamparan pasir putih yang halus terlihat sepanjang garis pantai memberikan kesan tersendiri bagi wisatawan. Terlebih lagi di sudut bagian selatan kita dapat menyaksikan pemandangan terbenamnya matahari dengan menikmati segarnya kelapa muda menambah rasa nyaman berada di Pantai yang telah menjadi salah satu icon dari kota Banyuwangi ini.


Selain itu juga Pantai ini memiliki deburan ombak khas laut selatan yang cukup bagus, sehingga dapat digunakan sebagai arena surfing terutama sangat cocok bagi pemula.

Sejak Banyuwangi di kenal sebagai daerah destinasi wisata, sejak itu pula Pantai Pulau Merah ini mendapat julukan “Kutanya Banyuwangi” karena tempat ini juga dilengkape dengan meja kursi payung pantai yang dapat di manfaatkan sebagai tempat berjemur.


Di sekitar kawasan Pantai Pulau Merah juga terdapat bedak-bedak yang menjual berbagai macam souvenir khas Pantai Pulau Merah. Pada periode bulan Oktober – Februari wisatawan dapat menikmati manisnya Dragon Fruit/ Buah Naga yang dapat tumbuh subur di sekitar daerah tersebut.