Melestarikan Budaya dengan Mempelajarinya
Banyuwangi
merupakan salah satu kabupaten yang melestarikan dan mempertahankankan ritual
adatnya. Dari 72 event Banyuwangi festival 10 di antaranya merupakan ritual
adat yang di laksanakan di beberapa desa seperti Kemiren, Bakungan, Andong, Alas
Malang dan Sukodono.
Desa
Olehsari berbatasan langsung dengan Kemiren, sebuah desa yang juga merupakan
salah satu desa adat, yang sebagian wilayah adatnya masuk ke dalam tata
administrasi desa Olehsari. Ada beberapa keunikan mengenai hubungan kedua desa
ini terkait dengan pelaksanaan ritual masing-masing. Dengan bersebelahannya
desa ini, ada hal yang menurut mereka dilarang oleh hukum adat masing-masing:
seblang Olehsari tidak boleh ditampilkan di Kemiren dan sebaliknya Barong
Kemiren tidak boleh ditempilkan di Olehsari. Menurut kepercayaan masyarakat
Olehsari, ada suatu perjanjian yang melarang kedua kesenian ini masuk ke
wilayah adat desa sebelahnya. Hal ini bersangkutan dengan asal usul kesenian
mereka masing-masing.
Seblang
merupakan ritual adat yang penting dirayakan oleh masyarakat adat osing desa Olehsari setiap tahun sepekan
setelah hari raya idul fitri. Keberadaan masyarakat adat osing berada dibagian Timur Pulau Jawa tepatnya
di wilayah Banyuwangi. Mereka menyebar di 9 kecamatan dan di beberapa tempat
masyarakat adat osing telah berbaur dengan pendatang. Seperti dengan masyarakat
madura, jawa, dan bali. Masyarakat adat using sangat erat dengan sastra lisan.
Sastra lisan yang diwujudkan kedalam bentuk mantra-mantra. Mantra merupakan
sastra kuno yang didalamnya mengandung doa-doa sakral, magis dan berkekuatan gaib.
Mantra-mantra mereka sebenarnya ditujukan kepada hal-hal positif. Digunakan
untuk kepentingan ritual adat. Syair-syair dalam mantra bila diperhatikan
kadang sangat sulit mengartikannya. Sehingga baik para sinden, pawang, ketua adat,
bahkan ahli bahasa pun sulit memahaminya secara jelas dan tepat.
Masyarakat
Osing yang bermukim di Olehsari
memiliki kepercayaan terhadap kehidupan dan kehadiran makhluk-makhluk halus.
Dalam kepercayaan masyarakat adat Osing dipercayai bahwa setiap kampung atau
desa dijaga atau ditunggu oleh roh leluhur mereka. Pengertian roh leluhur atau
makhluk halus ini sangat erat dalam tata kehidupan mereka dan mempunyai
pengaruh yang besar. Makhluk halus dalam pengertian masyarakat olehsari adalah
danyang. Danyang ini sangat berbeda dengan pengertian jin, setan, iblis dan
jenis lainnya. Danyang adalah roh-roh leluhur yang mempunyai peran besar
terhadap proses awal berdirinya sebuah desa.
Secara umum orang Osing adalah petani yang
unggul. Budaya bercocok tanam syarat dengan resiko kegagalan. Untuk
menghindarkan diri dari segala gangguan maka mereka berpegang teguh pada kepercayaan-kepercayaan
yang terkait dengan aktifitas kesehariannya. Masyarakat adat Osing mengenal
ritual kepercayaan dengan tujuan menghindari kegagalan dan gangguan dari
manapun datangnya. Juga merupakan cara menghormati para leluhurnya. Tujuan
besarnya dari ritual adat ini adalah mengucap syukur kepada Tuhan sang Maha
Pencipta dan menciptakan keselarasan di bumi. Dalam menjaga kelangsungan hidup
ini masyarakat adat Osing melaksanakan ritual adat Seblang dan salah satu
bagian dari acara ritual ini adalah Ider
Bumi yang berarti mengitari bumi.
Bentuk panggung Seblang melingkar seperti belahan bumi dengan
bagian pusatnya ditancapkan tiang yang dihiasi dengan segala lambang
persembahan sebagai sesaji. Di atasnya tergelar pelindung berupa payung agung
yang terbuat dari kain putih menaungi panjak para penabuh gamelan. Di lingkar
terdalam ditempatkan seperangkat gamelan sebagai pusat bunyi yang terdiri dari
kendang, saron, kempul dan gong. Lingkaran berikutnya adalah arena seblang
menari. Desain lantai panggung berbentuk lingkaran dimana seblang berjalan
menari mengikuti lingkaran. Panggung
lingkar ini dipercaya mempunyai kekuatan magis. Lingkaran berikutnya adalah
anak tangga yang berjumlah 4 sehingga untuk mencapai lingkar tempat penari
Seblang melakukan aksinya diperlukan lima langkah. Jumlah angka yang memberikan
makna bagi yang memaknai. Lingkar terluar adalah tempat pengunjung yang datang
dari berbagai kalangan. Mereka bukan sekedar menonton. Mereka datang menghadiri
ritual adat dengan berbagai tujuan, keinginan, maksud dan kehendaknya
masing-masing. Mereka hadir dalam ritual adat ini untuk berharap,
mengharap-harapkan agar segala yang diharapkan bisa terkabul.
Dibagian
barat ada pondok yang menghadap ke timur atau wetan sebagai lambang permulaan. Di dalam pondok ini terdapat aneka
macam hasil bumi yang akan diperebutkan oleh pengunjung di hari terakhir
setelah seluruh rangkaian acara ritual dilaksanakan. Saat ritual berlangsung
tempat ini digunakan para sinden mendendangkan mantra-mantra.
Ritual
seblang diadakan selama 7 hari, dimulai sekitar jam 2 siang dan berakhir
sekitar jam setengah 6 sore sebelum waktu magrib tiba. Pengunjungnya pun
semakin mendekati hari-hari terakhir jumlah yang hadir akan semakin banyak dan
bukan hanya dari masyarakat adat Osing saja.
Penari
seblang olehsari diperankan oleh gadis remaja dan merupakan garis keturunan
dari penari seblang. Pemilihannya dilakukan dengan suatu ritual yang sangat
magis. Prosesi pemilihan dilakukan pada hari kamis malam jum’at atau minggu
malam senin. Raga Mbah Sutrinah yang dikenal dengan Mah Sun menjadi perantara.
Ritual ini disebut dengan kejiman. Dialog antara roh leluhur dan para tetua
adat ini juga dihadiri oleh mak asiah sang penanggung jawab ritual. Para
pesinden dan masyarakat desa termasuk pejabat desa turut menyaksikan.
Setiap
hari selama 7 hari mak asiah harus membuat mahkota yang dalam bahasa Osing
disebut omprok. Omprok ini terbuat dari daun-daunan dan bunga segar. Di bagian
depan omprok di tengah terdapat
sebuah cermin. Cermin yang terdapat di mahkota atau omprok, dimaknai sebagai sarana mendapatkan kawan, yaitu agar roh
halus yang hadir dalam raga Seblang adalah roh halus yang seusianya sehingga
makna cermin bukan sebagai tolak bala. Cermin ini dimaknai dan dipercayai
sebagi sarana untuk memperoleh kerabat. Selain itu masyarakat yang terlibat
dalam kegiatan upacara adat Seblang membuat rangkaian bunga-bunga yang akan
dijual. Kegiatan merias seblang biasanya dilakukan di rumah Mak Asiah sang
pembuat omprok Seblang.
Prosesi
akan dimulainya pementasan upacara adat Seblang biasanya dipimpin oleh tetua
adat. Hal yang pertama dilakukan ialah mengarak
Seblang dari tempatnya dirias hingga ke tempat pementasan Seblang. Penari
Seblang diapit oleh 2 pawang yang merangkap sebagai sinden dan seluruh pendukung
termasuk sinden-sinden lain berjalan di belakang dengan membawa seluruh
sesajen. Tidak ketinggalan juga perapen
dan payung agung yang melindungi penari Seblang. Belum ada bunyi gamelan dalam
arak-arakan ini, namun gamelan sudah dibunnyikan ditempat upacara atau
pementasan.
Mantra
yang didendangkan oleh sinden untuk memulai upacara adat seblang yaitu tembang
Seblang Lukento. Oleh masyarakat adat Osing Olehsari dipercaya sebagai mantra
untuk memanggil roh halus atau sanghyang. Gending-gending lain menyusul seperti
liliro kantun, cengkir gading, podo nonton, kembang menur, kembang gadung,
kembang pipil. Ada sekitar 27 tembang yang ditembangkan dalam ritual ini.
Kembang
yang sudah dibuat di rumah penari Seblang dijual kepada para pengunjung dan
pada sesi ini pengunjung berebut membeli
dengan tujuan masing-masing. Selama proses jual bunga ini, gending kembang
dirmo terus dikumandangkan dan Seblang tetap duduk. Dengan sarana kembang ini
mereka berharap agar harapan mereka
dapat segera terwujud. Tak jarang beberapa pengunjung melalui sinden
atau pawang meminta tolong agar air yang dibawa diberikan kepada Seblang untuk
dimantrai sesuai permintaan pengunjung. Seblang pun dengan sabar melayani
keinginan dengan memberi tambahan daun pisang muda yang terjuntai di omproknya dan memasukkannya ke dalam
air.
Sebagai arena penutup acara ini, Seblang mengitari
arena kembali. Babak ini berakhir dan diakhiri dengan gending layar kumendung.
Dalam prosesi gending layar kumendung dilakukan tundikan yakni penari seblang
akan melempar sampur ketengah pengunjung. Pengunjung yang terkena sampur atau
terkena lemparan sampur dengan rela hati menari bersama seblang.
Makam-makam
akan disinggahi, seperti makam mbah ketut. Memasuki jalan desa dibeberapa
tempat yang memiliki kesejarahan olehsari, seblang selalu berhenti dan seblang akan menari sejenak. Ditempat
pemberhentian yang penting dan mengharukan adalah ketika berhenti ditempat
rumah mbah sun. Seblang akan disambut dengan ramah oleh Mbah Sutrinah. Di
perempatan dekat masjid Seblang berhenti dan menari cukup lama. Selanjutnya
seluruh rombongan Seblang menuju kantor desa dan di sini akan disambut kepala
desa dan mempunyai kesempatan menari bersama seblang.
Rangkaian
ritual ini kembali ketempat semula. Sampur di tangan Seblang adalah sarana
pemberi kehormatan kepada seluruh yang hadir tanpa perbedaan. Sampur di tangan
Seblang memberi rasa senang dan bahagia tanpa pandang bulu. Sampur ditangan
Seblang memperluas kekerabatan tanpa tebang pilih. Sampur di tangan seblang
adalah sarana menjalin persaudaraan tanpa pilih kasih.
Diawali
dengan gending Condro Dewi terdengar dengan ritme yang lama. Ritme ini akan
semakin cepat sampai mencapai ekstase puncak. Seblang terjatuh. Dalam keadaan
terjatuh, secepatnya seblang harus bangkit kembali karena kalau seblang tidak
bangkit kembali maka bencana lah yang akan menghampiri. Seblang akan bangkit
jika ada pengorbanan secara sukarela, membantu dengan hati tulus, dengan
kejujuran yang ikhlas bersedekahnya. Lembaran uang bukan lagi bermakna sebagai
alat transaksi. Lembaran-lembaran uang menyatakan sarana ketulusan.
Lembaran-lembaran uang dimaknai sebagai bentuk pengabdian. Lembaran-lembaran
uang adalah ungkapan hati yang ikhlas. Lembaran-lembaran uang membantu bagi
yang ingin keluar dari kesulitan.









