Angklung Paglak bagi Kehidupan Masyarakat Desa
Angklung adalah alat musik bambu dengan bilahan atau
tabung bambu yang tersusun dalam tangga nada tertinggi. Nada-nadanya tersusun
dalam tangga nada selendro Banyuwangian. Sengaja menyebut dengan tangga nada
selendro Banyuwangian, hal ini untuk membedakan dengan tangga nada selendro
Jawa Tengahan. Angklung Banyuwangi biasanya tersusun dalam tiga oktaf tangga
nada pentatonik selendro Banyuwangian dengan 15 nada. Nada rendahnya berada
pada bagian sebelah kiri penabuhnya selanjutnya tersusun berurutan sampai nada
tertingginya berada di sebelah kanan.
Angklung adalah alat
musik yang sudah lama dikenal oleh masyarakat Banyuwangi. Menurut keterangan
buku Djawa : Over Muziek in Het Banyuwangi Sche dalam tulisan Sumitro Hadi,
Konsep Diskripsi Kesenian Angklung Caruk, dijelaskan Angklung Paglak mulai
menggeliat lagi di tahun 1926.
Angklung Paglak Kemiren dibunyikan pada
saat panen tiba. Paglak yang dibuat di tengah sawah dengan ketinggian hingga 10
meter dari tanah ini dimaksudkan untuk menghibur orang-orang yang bekerja di
sawah saat panen tiba.
Dalam perkembangan
lebih lanjut masyarakat Desa Kemiren telah memiliki kesadaran untuk
melestarikan angklung paglak tersebut. Sehingga angklung paglak bukan hanya dimainkan
pada saat panen saja tetapi juga dibunyikan pada saat kegiatan-kegiatan penting
lain di desanya. Dalam kegiatan adat seperti Tumpeng Sewu, Ider Bumi dan
acara-acara adat penting lainnya, angklung paglak dimainkan untuk membangun
suasana khas masyarakat desa Kemiren. Angklung paglak di desa Kemiren telah
memberikan identitas pada masyarakat desanya.
Masyarakat desa adat
Kemarin telah menempatkan angklung pada posisi yang tinggi dalam tatanan
kehidupan masyarakatnya. Memainkan musik angklung paglak adalah satu bagian
ritual penting dalam kegiatan adat di Desa Kemiren saat ini. Memainkannya saat
pemnyambutan tamu, saat upacara adat, bahkan saat hajatan keluarga merupakan
penghargaan tertinggi kepada angklung itu sendiri. Hal ini sama seperti yang
telah mereka lakukan sejak jaman dulu, yaitu menaruh angklung pada pondok kecil
di tengah sawah pada ketinggian tertentu. Ini merupakan simbol status yang
diberikan oleh masyarakat desa adat Kemiren pada alat musik bambu ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar