Kamis, 24 Mei 2018

Konservasi


Angklung Paglak bagi Kehidupan Masyarakat Desa


 

           Angklung adalah alat musik bambu dengan bilahan atau tabung bambu yang tersusun dalam tangga nada tertinggi. Nada-nadanya tersusun dalam tangga nada selendro Banyuwangian. Sengaja menyebut dengan tangga nada selendro Banyuwangian, hal ini untuk membedakan dengan tangga nada selendro Jawa Tengahan. Angklung Banyuwangi biasanya tersusun dalam tiga oktaf tangga nada pentatonik selendro Banyuwangian dengan 15 nada. Nada rendahnya berada pada bagian sebelah kiri penabuhnya selanjutnya tersusun berurutan sampai nada tertingginya berada di sebelah kanan.
Angklung adalah alat musik yang sudah lama dikenal oleh masyarakat Banyuwangi. Menurut keterangan buku Djawa : Over Muziek in Het Banyuwangi Sche dalam tulisan Sumitro Hadi, Konsep Diskripsi Kesenian Angklung Caruk, dijelaskan Angklung Paglak mulai menggeliat lagi di tahun 1926.


     Angklung Paglak Kemiren dibunyikan pada saat panen tiba. Paglak yang dibuat di tengah sawah dengan ketinggian hingga 10 meter dari tanah ini dimaksudkan untuk menghibur orang-orang yang bekerja di sawah saat panen tiba.

Dalam perkembangan lebih lanjut masyarakat Desa Kemiren telah memiliki kesadaran untuk melestarikan angklung paglak tersebut. Sehingga angklung paglak bukan hanya dimainkan pada saat panen saja tetapi juga dibunyikan pada saat kegiatan-kegiatan penting lain di desanya. Dalam kegiatan adat seperti Tumpeng Sewu, Ider Bumi dan acara-acara adat penting lainnya, angklung paglak dimainkan untuk membangun suasana khas masyarakat desa Kemiren. Angklung paglak di desa Kemiren telah memberikan identitas pada masyarakat desanya.

Masyarakat desa adat Kemarin telah menempatkan angklung pada posisi yang tinggi dalam tatanan kehidupan masyarakatnya. Memainkan musik angklung paglak adalah satu bagian ritual penting dalam kegiatan adat di Desa Kemiren saat ini. Memainkannya saat pemnyambutan tamu, saat upacara adat, bahkan saat hajatan keluarga merupakan penghargaan tertinggi kepada angklung itu sendiri. Hal ini sama seperti yang telah mereka lakukan sejak jaman dulu, yaitu menaruh angklung pada pondok kecil di tengah sawah pada ketinggian tertentu. Ini merupakan simbol status yang diberikan oleh masyarakat desa adat Kemiren pada alat musik bambu ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar